Mentalitas kepiting yang satunya lagi juga berbahaya, toh?
Mentalitas kepiting alias crab (bowl) mentality (id.wikipedia.org) sering dikaitkan dengan kalimat:
Karena saya susah, orang lain juga harus susah seperti saya!
Tapi, ada satu jenis mentalitas yang tak kalah bahaya dengan mentalitas kepiting. Kami namakan ini sebagai mentalitas pra-kepiting yang bunyinya:
Saya mau orang lain bertumbuh, asal bertumbuhnya lewat saya!
Mentalitas ini pasti terdengar familiar saat berbicara tentang:
- senioritas dalam organisasi siswa dan mahasiswa,
- sebagian masalah dari mentalitas boomer,
- sebagian dampak dari mentalitas akademik publish or perish,
- aplikasi penengah,
- kebiasaan dan mentalitas yang haus menjiplak ciri khas, merek dagang, style dari produk, demi mencapai jenis pengguna yang sama dengan kemasan serupa dan pesaing,
- kebiasaan pengadaan pemerintah (seperti dalam blog bahasa Inggris kami),
- perihal nyalon di pemilu dan segala janji manisnya.
Mengapa ini disebut pra-kepiting? Karena kalau orang-orang yang menganut mental ini gagal mencapai ekspektasinya, maka kemungkinan besar yang terjadi adalah mentalitas kepiting itu sendiri:
- Karena saya tidak dipilih jadi kepala desa, desa saya tidak boleh maju dan sejahtera.
- Karena saya bukan Kapolri, kinerja polisi tidak boleh semakin membaik.
- Karena saya gagal jadi pengurus organisasi mahasiswa di tahap wawancara, organisasi mahasiswa ini tidak boleh berinovasi seperti proposal saya.
- Karena perusahaan saya gagal menjadi pemenang tender aplikasi pemerintah baru, kualitas aplikasi pemerintah sebelumnya yang kami buat harus memburuk agar mereka terus membayar kami lebih daripada pemenang tender baru.
